Shopaholic dan Pemiluholic

Posted: Desember 10, 2011 in Uncategorized
Tag:, , , ,

[Courtesy Jurnal Coffee Break, Lembaga Studi Urban]

Ada dua hal yang mendorongku untuk menulis ini: pertama, partai-partai besar yang selama ini mengecewakan, menjengkelkan, menyebalkan, dan membuat saya (-dan saya yakin sejumlah besar rakyat lainnya-) malas baca koran, berdasarkan penghitungan suara sementara sampai saat ini, masih saja meraup suara yang besar. Sekalipun di forum-forum sosial dunia maya banyak terdapat black campaign yang menyudutkan para tokoh-tokoh besar tersebut, seperti ABS (asal bukan SBY) dan “say no to mega”, toh partai mereka masih saja dominan. Unik. Kedua, muculnya beberapa analisis, beberapa di jurnal ini, yang meneropong pemilu dengan membedah para caleg, idiologi pemilu, atau bahkan sistemnya. Tidak ada yang salah dengan itu semua, hanya aku ingin meramaikan analisis-analisis tersebut dengan membedah sang pemilih – yang sering kali oleh para analis dianggap ‘pasif’ dan ‘tidak kritis’.

Ada sebuah film baru yang menurut hematku cukup menarik untuk ditonton, yaitu Confession of a Shopaholic (2009). Dari film ini aku akan mulai ceritaku. Film yang digarap oleh P. J. Hogan, dan diperankan oleh Isla Fisher dan Hugh Dancy ini menceritakan seorang Rebecca Bloomwood (Beck) yang nampaknya seluruh kehidupannya berpusat pada satu aktifitas: shopping alias belanja. Sekalipun hutang di lintah darat sudah menumpuk, toh penghasilan Beck yang sedikit itu tetap saja dipakai untuk shopping. Kucing-kucingan dengan debt collector pun tak terhindarkan. Singkat cerita, Beck, dipicu oleh rasa cintanya pada cowoknya, akhirnya sadar bahwa selama ini ia telah terbelenggu oleh habit shopping yang destruktif. Beck lelah terus-menerus memenuhi hasrat shopping-nya yang tak kunjung padam. Hal inilah yang semakin mengukuhkan predikatnya sebagai a shopaholic, seseorang yang getol belanja.

Hanya, menurutku, amat disayangkan apabila visi SANG SUTRADARA adalah untuk membuat sadar para shopaholic di seantero jagad raya dengan film ini. Karena bagiku, film ini fasis! Shopaholic dianggap sebagai suatu penyakit kronis yang harus disembuhkan. Sehingga untuk menjadi manusia yang sehat, penyakit shopaholic harus diobati. Apa salahnya shopaholic? Kenapa harus direpresi? – toh itu merupakan sarana pemuasan narsistik orang-orang tertentu (yang berduit). Persis seperti kata sang patung tadi. Melarang para shopaholic berbelanja sama saja dengan melarang pebasket untuk bermain basket, orang relijius untuk beribadah, suami istri untuk berhubungan intim, dst.

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, tetapi bukan berarti harus direpresi! Represi berarti meminggirkan, melabeli sebagai negatif, atau malah menanamkan sikap anti. Kontradiktif; sesuatu yang menyenangkan, harus disingkirkan dengan paksa. Hal ini mengimplikasikan sang shopaholic yang ingin “sembuh” untuk menipu dirinya, persis seperti perkumpulan terapi yang didatangi Beck. Di sinilah letak fasisnya: sama seperti Hitler menyingkirkan para Yahudi sebagai ‘sumber penyakit identitas nasional’, maka film ini menyingkirkan sifat shopaholic sebagai ‘sumber penyakit identitas diri’.

Kalau aku jadi sutradaranya, dan memiliki visi serupa untuk “menyadarkan” para shopaholic, maka aku akan fokus pada Beck sebagai individu bebas, yang bebas memilih belanjaannya, dan bukan sebagai individu yang pasrah terseret arus konsumerisme destruktif tanpa bisa melawan.

Ada adegan dalam film tersebut yang berpotensi membangkitkan kembali agensi seorang Beck di tengah pusaran konsumerisme; suatu agensi yang membuat Beck dan para shopaholic menjadi individu bebas dan bukan korban yang pasrah. Di scene itu Beck sedang berjalan melewati etalase sebuah butik, dan dia melihat sebuah syal berwarna hijau. Tiba-tiba sang patung, letak syal itu disandangkan untuk dipajang, mendadak hidup dan merayu beck membeli syal itu. Beck pun tergoda, ia masuk dan melihat syal hijau tersebut dari dekat. Sang patung pun menyambar pundak Beck, menyandangkan syal hijaunya ke sekitar bahu Beck, menghadapkannya ke cermin dan berkata, “The point of this scarf is that it will become part of the definition of you, of your psyche … : The Girl in a Green Scarf” Sugesti sang patung cukup menyulut otak Beck untuk berpikir bahwa dengan syal ini, dia akan menjadi wanita yang anggun mempesona, sebegitu rupa sehingga ia akan mampu memikat sang bos yang segera akan mewawancarai dia untuk sebuah pekerjaan.

Louis Althusser memiliki kata yang tepat untuk menggambarkan fenomena ini: Interpelasi. Interpelasi merupakan suatu cara kerja wacana, apapun bentuknya (idiologi, model, imaji, agama, pengetahuan, dsb), dalam merekrut orang-orang untuk berpihak kepadanya. Wacana memanggil (interpellates) subyek; ia mengajak sang subyek untuk memakai dirinya sebagai sarana kenikmatan; ia menawarkan sebuah keutuhan eksistensial apabila sang subyek mengenakan dirinya sebagai sebuah identitas. Dalam kasus Beck, sang syal hijau mampu memanggil Beck untuk mengenakan dirinya, mentransfer keanggunan yang mempesona dari dirinya ke diri si Beck. Bagi Beck, tentu ini adalah sebuah kenikmatan – dipandang anggun, mampu menyita mata-mata pria, dan mempesona sang bos.

Bagi saya, adalah keliru apabila kita melihat ini sebagai sebuah kekalahan subyek atas wacana – sebaliknya: wacana bisa jadi adalah hamba hasrat manusia. Wacana akan menawarkan suatu pemuasan hasrat manusia; ia akan senantiasa menyesuaikan dirinya untuk melayani hasrat manusia; Ia akan menawarkan dirinya untuk mengabdi demi keutuhan manusia. Jika manusia tidak merasa ter-interpelasi, dan tidak tergiur dengan kenikmatan yang ditawarkan, maka wacana akan ditinggalkannya. Jadi, bukan syal hijau tersebut yang diinginkan beck, melainkan efek –atau lebih tepat efek yang dipercaya akan terjadi– yang ditawarkan sang syal. Manusia, atau subyek, disini memiliki posisi aktif untuk memilih, untuk menjawab interpelasi, untuk aktif mengintegrasikan wacana dengan dirinya.

Dari sini aku mencoba menerapkan pandangan tentang agensi aktif shopaholic ke para pemiluholic – sebutanku untuk mereka yang “berpartisipasi aktif” dalam Pemilu, dan memperoleh kenikmatan dari partisipasi aktifnya tersebut. Aku ingin uraikan bahwa “partisipasi aktif” disini tidak melulu soal aktif mencontreng, aktif berkampanye, aktif meng-iya-kan visi-visi KPU, dan semua kegiatan yang dimonopoli oleh sebuah payung identitas ‘nasionalis’.

Pemilu adalah pesta rakyat! Yup, it is.. rakyatlah yang berpesta. Semua rakyat diundang. Semua rakyat diajak bersenang-senang. Hanya, cara bersenang-senangnya bisa berbeda-beda, tergantung efek interpelasi tentunya. Ada 2 macam Interpelasi yang kuamati.

Pertama, dari Pemilu itu sendiri.

  • Dengan berpartisipasi, rakyat (konon) akan ikut menentukan arah negara. Yah, merasa menjadi orang yang menentukan cukup keren memang. Merasa sebagai warga negara yang baik, dan nasionalis memberi sebuah perasaan herois: “Indonesia gak bakal ada kalo aku gak nyontreng!” Lihat aja iklan KPU, “suara anda menentukan!”
  • Sekarang nyontreng, beda dengan yang dulu – nyoblos. “So, rugi kalo gak nyobain: kan 5 taon sekali,” kata seorang temanku. Jadi fokusnya pada nyontreng, dan bukan pada contrengannya, apalagi efek kedepan hasil contrengannya.
  •  Bagi para ‘jiwa pemberontak’, pemilu merupakan ajang yang tepat untuk ‘unjuk gigi’ untuk menunjukkan bahwa ‘saya anti pemilu!’: kertas suara di coret-coretlah, ditusuk-tusuklah; vandalisme dalam bilik suara lah.
  •  Bagi para analis, seperti saya dan penulis-penulis lain jurnal ini misalnya, pemilu merupakan ajang untuk unjuk pisau analisis masing-masing. Apalagi buat para master/doktor/profesor, “laris rek: gak di koran, diwawancara, di talk show, di diskusi, dst…” kata seorang dosen. Ditanyai orang sebagai ‘yang dianggap tahu’ merupakan kepuasan tersendiri tentunya.

Kedua, dari para caleg.

  • Karena bosen opa-oma yang sudah reyot , atau om-om dan tante-tante menor sok pintar, maka beberapa orang memilih mencontreng artis. “Yah, siapa tau mas artis-artis yang lebih enak dilihat bisa lebih baik dari pada wakil-wakil kita yang sudah reyot” kata seorang satpam.
  • Beberap rakyat yang termakan buaian iklan-iklan; maklum sudah capek menderita dan merasa powerless. Jadi: “ya percaya aja deh. Kalo caleg itu bo’ong, biar Allah yang bales,” kata seorang sopir taksi sambil diucapkan dengan nada putus asa.
  • Bangga kalo kenalannya waktu SMP/SMA/kuliah, ato bahkan tetangganya jadi caleg. Jadi, pas lagi liat TV trus nongol si kenalan kita, trus dengan bangganya kita bilang, “eh itu tetanggaku loh!”, “dia tuh angkatanku, pek!”. Bisa juga kalo lagi sirik saat kenalan kita ‘sukses’ di sono, “halah..dia lo dulu nanya2 aku kalo ujian.” Bangga donk kalo punya kenalan anggota DPR(/D) apalagi bisa telak menjelek-jelekkan mereka.

***

Aku ingin menutup dengan anekdot. Suatu hari di sebuah hotel bintang 5 di Surabaya – aku lagi diundang makan gratis waktu itu – aku diajak bicara sama seorang kader dari sebuah parpol ‘garang’. Singkat cerita, beliau tahu kalau aku lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair, yang diartikannya sebagai ‘orang yang mengerti dan peduli politik’. Aku juga akhirnya tahu ternyata sang bapak adalah seorang pedagang asongan yang ‘nasionalis’.
Kami sempat bertukar cerita tentang ‘aib’ negeri ini, sampai akhirnya beliau bertanya sama aku, “mas milih partainya siapa?” – nampaknya ini pertanyaan yang kebelet beliau tanyakan. Naluri isengku muncul, dengan santai kujawab, “waduh pak, saya nggak ikut pemilu: males ah!” Jawabanku sukses mengubah mimik sekaligus menghapus tawa ‘nasionalis’ di wajahnya: “loh mas ini gimana sih, lulusan ilmu politik, Unair lagi, masa gak berpartisipasi aktif dalam pemilu? Gimana nasib bangsa ini kalo semua mahasiswa politiknya kayak sampeyan?” – diucapkan dengan nada sengak’ yang menyudutkan tentunya.
Hormon isengku memuncak dan meletus dalam jawabanku, “loh… bapak ini gimana to, saya aja yang lulusan ilmu politik Unair aja gak milih, kenapa bapak yang ngerti politik cuma dari koran aja kok malah repot-repot jadi kader parpol?” Yah, macam-macam beginilah kenikmatan yang, sebagai seorang pemiluholic, aku dapat dari pemilu =)

Jakarta, 13 April 2009
Hizkia ‘Yosie’ Polimpung
Warga negara yang (ehemm..) baik

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s