Pemilu = Idol Syndrome?

Posted: Desember 10, 2011 in Uncategorized
Tag:, , , , , , ,

Apa itu Pemilu? Menurut Ramlan Surbakti, dalam kuliahnya Seminar Pemilu (2009), Pemilu adalah konversi suara rakyat menjadi kursi legislatif. Secara substansial, merupakan proses suksesi kekuasaan, yg memungkinkan terjadi suksesi tanpa kekerasan, karena berada dalam prosedur legal formal yg jelas.

Hari ini Indonesia memilih. Pernyataan ini terdengar begitu lucu, maaf, karena yg terjadi justru hal yg sebaliknya. Tingginya jumlah pemilih yg tidak menggunakan hak pilihnya, carut marut DPT, perkara di tingkatan KPPS, surat suara yg salah dapil (terjadi di keputih, surabaya), bahkan kebingungan antara KPPS, saksi dan pemilih ketika mengisi berita acara di tingkat PPK.

Dan hiruk pikuk pesta demokrasi terlewati begitu saja. Tidak tampak luapan ekspresi dari masyarakat (baca:pemilih). Para penyelenggara, pelaksana, dan peserta (secara berurutan, KPU, petugas terkait, dan partai politik), sibuk dengan dirinya masing – masing. Dan anehnya, dalam iklan – iklan yg ditampilkan, begitu sering terdengar klaim sederhana yg berbunyi, ‘atas nama rakyat’.

Dari mana datangnya premis nan sederhana itu? pertanyaan itu terlintas begitu saja. Ada yang hilang disini. Representasi. Hari ini kata itu tidak lagi memiliki arti. Atas dasar apa basis konstituen partai ditentukan? Ketika berita quick account menunjukan hasilnya, ternyata, tingkat popularitas berbanding lurus terhadap tingkat elektabilitas (keterpilihan).

Lantas, apa bedanya politisi kita dengan selebritis? Apa yang membedakan Pemilu dengan kontes – kontes idol syndrom yg banyak ditayangkan televisi? Hampir tidak jelas. Di televisi, eliminasi dilakukan atas dasar 2 hal, respon audience, dan pesan singkat (SMS) penonton dirumah. Ada mekanisme kontrol yg jelas, dan ukurannya pun tersurat. Pada pemilu? Jumlah suara yg diperoleh. Ironisnya, tayangan televisi selalu mendapat tempat dihati pemirsanya. Acaranya selalu ditunggu. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku pada pemilihan umum. Momen ini terlewatkan begitu saja.

Pemilu bukanlah menjadi milik rakyat. Hiruk pikuknya dirasakan pelan, hampir tak berasa. Seperti inikah wajah suksesi wakil legislatif kita? Sebandingkah dengan anggaran yaNg dihabiskannya?
Pertanyaan ini sekiranya menjadi subjektif. Terserah kita menjawabnya.

All democracy is representation. (Priyatmoko, 2008)

Regards,

Gede Indra Prama

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s